BADGE

Minggu, 20 Februari 2011

Pura-pura atau Benar Cinta

Seperti pepatah, "Benci dan cinta itu bedanya tipis", begitu pula pura-pura dan benar-benar cinta mungkin juga dipisahkan hanya dengan sehelai rambut. Alias bedanya tipiiiis.....
Namun apakah anda menyetujuinya atau tidak itu kembali ke pribadi masing-masing. Ini adalah pendapat saya karena itu yang mungkin pernah atau terkadang saya rasakan.
Banyak hal tentunya yang akan dilewati banyak pasangan dalam perjalanan mereka membangun hubungan mereka masing-masing, dari yang indah hingga penuh duka. Apalagi mereka yang telah menjalani hubungan yang sangat lama, keluarga pasti sudah menjadi bagian dari diri pasangan kita. Bukan lagi hanya "aku dan kamu", tetapi "kami dan kita" yang cakupannya sudah lebih besar.
Suka duka dalam hubungan memang hal yang biasa. Menjadi tidak biasa apabila duka lebih berkepanjangan dibanding dengan sukanya. Mungkin kita yang tidak menjalani langsung hubungan itu bisa berkata, "Ah,dia sich ga sabar!" atau "Ya ampun, kok gitu sih! Kan kasian cewek/cowoknya. Dasar!" Padahal dia tidak tahu bagaimana sakitnya hati orang itu menjalani hubungan yang sudah tidak sehat lagi. Tidak sehat ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Faktor keluarga, lingkungan, sifat pribadi, masalah dalam suatu hubungan dan masih banyak lagi. Menahan sakit gigi memang sangat menyakitkan,tp sakit hati apalagi karena pasangan kita sendiri, notabene orang yang sangat kita sayang, hal itu lebih menyakitkan.
Satu atau dua kali pertengkaran itu hal biasa. Hubungan tanpa perbedaan juga pasti sangat membosankan, tetapi apabila antara satu dan lainnya sudah tidak bisa saling menghargai dan menghormati pasangan itu namanya menggarami air laut. Suatu hal yang percuma untuk dijalani dan dipertahankan. Sesekali pasangan menahan sakitnya hati dengan berpikir bahwa hubungan yang telah aku jalani ini aku bangun dengan susah payah, apakah harus hancur dengan ketidaksabaranku sendiri atau mungkin ini hanya salah satu dari banyak cobaan yang harus aku jalani untuk menguatkan cinta dan mengokohkan hubunganku, jadi aku harus bisa bersabar dan bersabar........ tapi sampai kapan aku harus bersabar?? Sampai kapan aku harus pertahankan semua ini apabila di dalam hati cinta sudah terkikis. Apakah saya harus berpura-pura mencintainya dan mengorbankan perasaan? Karena sekali lagi bagi saya, pura-pura dan benar cinta itu bedanya tipis. Orang saja bisa membuat topeng senyata aslinya,,apalagi orang itu sendiri yang menopengi dirinya pasti akan berusaha membuat topeng yang terbagus agar orang tidak tahu kedok aslinya. Tapi pertanyaannya adalah sampai kapan?
Mengakhiri semua ini ternyata tidak mudah, apalagi jika hubungan itu sudah melibatkan keluarga dari kedua belah pihak. Akan lebih banyak perhitungan yang harus dilakukan apabila keluarga sudah ikut menjadi bagian dalam hubungan ini. Sampai sekarang pun saya sendiri tidak tahu apa solusi paling tepat untuk problematika seperti ini, karena jika pasangan ini berpisah akan banyak pihak yang dikorbankan. Sungguh problem yang pelik, tapi jika perasaan yang sakit akan lebih menguras tenaga dibanding dengan tubuh yang sakit. Hingga kini saya hanya bisa berpasrah padaNya. Jodoh ada ditangan Tuhan dan saya sebagai manusia akan selalu berusahan untuk melakukan yang terbaik walaupun hati sakit, karena Tuhan tidak akan membiarkan umatNya menanggung bebean berat sendiri apalagi bagi mereka yang mau mengetuk pintu rumah Tuhan untuk mencari pertolongan Tuhan.
Biarlah Tuhan yang merenda semua ini untuk saya dan hidup kita. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita, karena jodoh ada di tangan Tuhan maka serahkan hidupmu hanya padaNya dan Tuhan beserta kita.

Tribute to My Life

Tidak ada komentar: